Bienvenida...


بسم الله توكلت على الله... ﻻحل وﻻقوة اﻻ بالله...

Rabu, 01 Juni 2011

Dunia Kotak Kaca Part 6

Titan mengangkat sendoknya tinggi-tinggi dan mengamatinya dengan teliti. Sekilas terlihat jijik.
". Ini apaan sih? Kayak makanan kambing." Tanyanya heran sekaligus aneh. Nadhira terbahak dibuatnya.
". Haha... Ini namanya pecel. Dan ini makanan manusia. Coba dulu dong!." Nadhira mengambil sendok di tangan Titan dan menyuapkan cepat ke mulut artis cakep ini yang langsung masang ekspresi pengen muntah. Tapi...
". Wuih... Enak nih. Lebih enak dari sup asparagus bikinin pembantu gue." Tanpa ingat pikiran jeleknya tadi, Titan langsung melahap pecelnya dengan napsu. Nadhira bahkan pongo dibuatnya.
". Idih... Siapa tuh yang tadi bilang itu makanan kambing?." Nadhira sesungut geli.
". Itukan tadi. Sekarang beda." Titan nyengir childish. Membuat hati Nadhira jumpalikan saat itu juga. Ya ampun... Mimpi apa gue ketemu artis ngetop hari ini? Mana cakep banget lagi. Batin Nadhira sumringah.
". Udah, cepet abisin! Masih banyak yang harus kita jelajahi."
". Sip bos!."


*   *   *

". Serius lo ngajak gue maen kesini?." Titan menunjuk gerbang di depannya. Nadhira nyengir sambil ngangguk2.
". Serius. Lo tunggu ya. Gue mau beli karcis. Pegangin bentar nih!." Nadhira melempar tasnya ke tangan Titan lalu berlari ke loket. Meninggalkan Titan yang masih menatap tulisan gede di atas gerbang.
'KEBUN BINATANG'.
". Yuk masuk!." Nadhira melambaikan dua tiket di tangannya lalu menarik tangan Titan. Titan mengelak ogah-ogahan.
". Yang bener aja lo. Ogah gue. Kebun binatang itu kotor dan bau." Titan menggeleng jijik.
". Namanya juga kebun binatang. Udah deh ikut aja." Nadhira menarik tangan Titan lebih keras.
". Tunggu tunggu... Gue... Gue belom pernah ke kebun binatang." Spontan Nadhira menengok ke arah Titan yang salah tingkah dengan pandangan 'sumpeh lo?'.
". Sejak kecil orang tua gue selalu ngajak liburan di luar negeri. Jadi..." Titan makin salah tingkah aja. Siap-siap deh di ketawain.
". Oh gitu. Ya udah gak apa-apa. Berarti pengalaman pertama lo ke kebun binatang harus dibikin se hip mungkin. Yuk!." Nadhira menarik lembut tangan Titan yang tiba-tiba nurut. Titan yang siap-siap dicela malah disuguhi kata yang sarat pengertian.
Ternyata Nadhira orang yang tepat janji. Titan beneran happy hari ini. Mereka naik gajah bareng, ngasih makan burung, dan foto bareng orang utan setelah sebelumnya saling ledek siapa yang paling mirip.
Sampai ketika segerombol anak putih biru fans-nya Titan yang mendadak menyemut sehingga Nadhira terpaksa mundur ke belakang.
". Itu siapa Kak? Majalah yang aku beli kemarin gak nyebut kalo Kakak punya pacar." Tanya seorang dari mereka. Titan tersenyum lalu menatap Nadhira yang menatap ke arah lain. Tidak mendengar pertanyaan anak itu apalagi mendengar jawaban Titan.

*   *   *

". Nih minum! Jangan bilang lo gak tau minuman apa ini." Nadhira menyodorkan segelas minuman dingin pada Titan lalu sibuk dengan minumannya sendiri.
". Gue tau kok. Ini namanya es cendol. Tapi..."
". Jangan bilang lo belum pernah minum ini ya!." Nadhira menatap gerah.
". Ya ampun.. Lo kok bisa tau sih? Baca dari majalah apa?." Titan bertanya heran walau terkesan sombong.
". Cih. Dari gelagat lo juga gue udah bisa baca. Gak perlu deh buka-buka majalah buat tau seorang Titan ternyata belum pernah makan cendol." Nadhira mendadak jengah dengan artis ini. Dia berdiri lalu membayar es cendol mereka dan nyelonong pergi.
". Eh tunggu... Mau kemana?." Titan menghabiskan minumannya dalam sekali teguk lalu berlari menyusul Nadhira.
". Mau pulanglah. Udah sore tau." Jawab Nadhira ketus.
". Ya udah, gue anter." Tawar Titan terdengar tulus.
". Oh gak usah. Rumah gue udah deket. Lo pulang aja sana! Kasian manager lo nyariin tuh!." Nadhira menolak dengan tidak sopan. Namun Titan nggak ngeh dengan perubahan mendadak ini.
Mereka masuk kompleks dan berhenti di depan sebuah rumah bercat kuning.
". Nah ini rumah gue. Lo pulang gih!." Nadhira mendorong pelan bahu Titan.
". Iya deh, gue pulang." Titan mulai menyerah menghadapi gadis satu ini. Nadhira pun beranjak masuk.
". Eh tunggu Nadh!." Titan menarik tangan Nadhira untuk menyetop langkah gadis itu. Terpaksa dirinya akan mengeluarkan jurus andalan yang biasa digunakan di film yang dibintanginya.
". Buat hari ini, makasih atas semua yang udah lo lakuin ke gue. Gue janji gak bakalan lupain hari terindah yang terjadi di kehidupan gue. Terlepas gue yang mungkin terkesan bawel banget di mata lo, gue bener-bener senang hari ini. Thanks ya!." Titan menarik tubuh Nadhira untuk didekap lalu menyapukan sebuah kecupan lama di kening Nadhira.

*    *   *

". Ya ampun... Tadi gue kemasukan setan apa sih?." Titan mengganti pakaiannya dengan piyama sambil membayangkan kejadian tadi sore.
". Tadi kesannya gue playboy banget." Titan melompat ke atas tempat tidur sambil nungging gak karuan.
". Eh tapi tadi Nadhira seneng gak ya gue cium?." Titan membayangkan kembali aroma mawar yang didapatnya dari kening Nadhira. Mendadak dirinya nyengir kayak orang sarap lalu guling-guling gak karuan.

*    *   *

Nadhira menatap langit-langit kamarnya yang sudah gelap lalu tersenyum sinting.
". Aduh Titan.. Kalo aja lo bukan artis pasti udah gue tonjok tuh." Nadhira ngedumel gemes. Padahal di hatinya dia udah pingsan ngebayangin ciuman Titan tadi sore.
". Titan kalo dipikir baik-baik kok macho banget ya?." Nadhira menghayal sambil menggigit ujung bantal guling yang dipeluknya.
Mendadak senyumnya hilang seketika. Nadhira memukul keningnya pelan. Sakitlah kalo mukulnya kenceng.
". Ya ampun Nadh, kenapa tadi gak minta tanda tangan sih? Dia kan artis..."

*    *    *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nyok komen2...!!! ^_^